PROGRAM 12 LANGKAH NARCOTIC ANONYMOUS

PROGRAM 12 LANGKAH NARCOTIC ANONYMOUS

  1. Kita mengakui bahwa kita tidak berdaya terhadap adiksi kita, sehingga hidup kita menjadi tidak terkendali.

  2. Kita menjadi yakin bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari kita sendiri yang dapat mengembalikan kita kepada kewarasan.

  3. Kita membuat keputusan untuk menyerahkan kemauan dan arah kehidupan kita kepada kasih Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana kita memahamiNya.

  4. Kita membuat inventaris moral diri kita sendiri secara penuh, menyeluruh dan tanpa rasa gentar.

  5. Kita mengakui kepada Tuhan, kepada diri kita sendiri dan kepada seorang manusia lainnya, setepat mungkin sifat dari kesalahan-kesalahan kita.

  6. Kita siap sepenuhnya agar Tuhan menyingkirkan semua kecacatan karakter kita.

  7. Kita dengan rendah hati memohon kepadaNya untuk menyingkirkan semua kekurangan-kekurangan kita.

  8. Kita membuat daftar orang-orang yang telah kita sakiti dan menyiapkan diri untuk meminta maaf kepada mereka semua.

  9. Kita menebus kesalahan kita secara langsung kepada orang –orang tersebut bilamana memungkinkan, kecuali bila melakukannya akan justru melukai mereka atau orang lain.

  10. Kita secara terus menerus melakukan inventarisasi pribadi kita dan bilamana kita bersalah, segera mengakui kesalahan kita.

  11. Kita melakukan pencarian melalui doa dan meditasi untuk memperbaiki kontak sadar kita dengan Tuhan sebagaimana kita memahamiNya, berdoa hanya untuk mengetahui kehendakNya atas diri kita dan kekuatan untuk melaksanakannya.

  12. Setelah mengalami pencerahan spiritual sebagai hasil dari langkah-langkah ini, kita mencoba menyampaikan pesan ini kepada para pecandu dan untuk menerapkan prinsip-prinsip ini dalam segala hal yang kita lakukan.




 Ttd

 

KLINIK UMMI MEDIKA

 

Penjelasan  Tentang Program 12 Langkah




Langkah pertama

“Kita mengakui bahwa kita tidak berdaya terhadap adiksi kita, sehingga hidup kita menjadi tidak terkendali.”

 

Langkah pertama adalah pernyataan masalah. Sebuah pengakuan atas adanya suatu masalah, dimana pengakuan ini diperlukan untuk memulai proses pemulihan. Suatu penerimaan didalam diri yang memerlukan pengkajian diri yang jujur dan dipatahkannya penyangkalan harus mendahului pengakuan ini. Langkah ini adalah satu-satunya langkah yang menyebutkan adiksi, alkoholisme, atau perilaku kecanduan yang lain. Perlu dicatat bahwa Langkah Satu tidak mengatakan. “berhenti melakukan ini, setelah itu lakukan ini”. Pecandu diharapkan sudah mencapai titik maksimal dalam kehancurannya, lalu mencari jawabannya dalam program ini. Dua hal yang dibicarakan dalam langkah ini adalah ketidak berdayaan dan ketidakterkendalian. Kedua hal ini tidak sama, ketidakberdayaan berarti kecanduan itu sendiri, ketidak mampuan untuk mengatur perilakunya, sementara ketidakterkendalian dilihat dari akibat atau konsekuensi dari perilaku kecanduan itu. Ini adalah langkah yang sukar untuk diambil, karena siapa yang suka untuk mengaku kalah. Untuk mencapai titik ini, seorang pecandu harus sudah mencapai tahap yang disebut Hit Bottom (mencapai dasar), diaman dampak dari kecanduan ini sudah begitu banyak menghasilkan penderitaan sehingga pecandu mulai berfikir untuk merubah hidupnya, atau bahkan mulai mencari pertolongan. Sebelum mereka mencapai tahap ini, para pecandu akan tetap berpikir bahwa dengan membuat perubahan-perubahan kecil dalam hidupnya maka masalah akan terselesaikan. Konselor harus berhati-hati agar tidak terperangkap dalam membantu pecandu menyelesaikan masalah-masalah ini. Pecandu akan terus mencari alasan dari kecanduannya, apakah itu orang tua, lingkungan, pergaulan, dsb. Seringkali terdengar mereka mengeluh, “kalau saja masalah ini selesai, saya tentu tidak akan pakai NAPZA lagi”. “masalah ini” adalah masalah yang mengecohkan dari permasalahan yang sebenarnya, yaitu adiksi itu sendiri. Konselor harus bisa membantu pecandu untuk melewati rintangan yang berupa penyangkalan ini, yang memang merupakan masalah utama yang dihadapi dalam pemahaman Langkah Pertama.

 

Langkah Kedua

“Kita menjadi yakin bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari kita sendiri yang dapat mengembalikan kita kepada kewarasan.”

 

Pada langkah inilah unsur spiritual dari program 12 langkah mulai Nampak. Langkah  kedua mewakili pemikiran para pendahulu AA yang meyakini bahwa satu-satunya solusi dari masalah kecanduan ini terletak di aspek spiritual dari seorang pecandu ketika di langkah Satu pecandu berhadapan dengan keadaan yang tidak memberikan banyak harapan, dan pada akhirnya terpuruk dan menyerah kalah, di Langkah Dua mulai bersinar lagi. Di langkah kedua inilah juga dijelaskan penekanan atas perbedaan antara proses spiritual dan proses keagamaan. Pembinaan spiritual bermakna mengakui ketidakberdayaan pada diri sendiri, suatu proses yang bisa dilakukan melalui program keagamaan atau tidak. Karena 12 Langkah ditetapkan untuk untuk semua pecandu, program ini menjauh dari membela atau mementingkan agama tertentu. Konselor yang bekerja menolong orang yang sedang menjalani langkah ini, harus memberikan banyak ruangan agar ia dapat menemukan sendiri konsep kekuatan yang lebih besar yang ia rasa paling nyaman baginya.

 

Langkah Ketiga

“ Kita membuat keputusan untuk menyerahkan kemauan dan arah kehidupan kita kepada kasih Tuhan sebagaimana kita memahamiNya”

 

Langkah ketiga lebih mengembangkan lagi konsep Kekuatan yang lebih besar, atau Higher Power yang bisa juga disebut Tuhan oleh mereka yang mempercayainya. Langkah ini membawa kepada tindakan yang konkrit untuk pertama kalinya, yaitu menyerahkan seluruh kehidupan seorang pecandu kepada Higher Power yang diyakininya. Disinilah seorang konselor berperan untuk membantu pecandu menemukan konsep Higher Power yang paling bisa diterima dan dipercaya olehnya. Program 12 Langkah bukanlah program keagamaan. Program ini diperuntukkan kepada semua pecandu, apapun latar belakang agamanya, atau tidak beragama sekalipun. Langkah ini mendorong pecandu untuk menyerahkan kendali atas hidupnya, karena seperti dibuktikan di langkah pertama, ia tidak dapat lagi mengendalikannya. Higher Power tidak perlu menyerupai konsep Tuhan seperti dalam agama formal, tetapi apa saja yang dapat mendatangkan rasa “penguatan” pada diri pecandu, dan disinilah konselor dapat membantu untuk menemukannya.

 

Langkah Keempat dan Kelima

“Kita membuat inventaris moral diri kita sendiri secara penuh, menyeluruh dan tanpa rasa gentar.”

 

“Kita mengakui kepada Tuhan, kepada diri kita sendiri dan kepada seorang manusia lainnya, setepat mungkin sifat dari kesalahan-kesalahan kita.”

 

Ketiga langkah pertama, apabila diserap dengan baik, akan menjadi fondasi spiritual yang kokoh, memungkinkan proses analisa diri yang lebih mendalam dam memerlukan lebih banyak lagi kejujuran dan keberanian. Kedua langkah ini bertalian karena keduanya membentuk suatu proses tertentu yang sangat penting didalam proses pelaksanaan 12 langkah. Keduanya membentuk satu ritual yang khusus , yaitu membuka diri secara total, mendokumentasikannya, dan menciptakannya kepada paling sedikit satu orang lain. Dalam konsep 12 langkah, “penyembuahan luka-luka dalam” tidak akan terjadi apabila luka-luka tersebut tidak dibawa kepermukaan dan diakui keberadaannya. Baru setelah itu proses penyembuhan bisa dimulai. Ketiga kategori utama yang biasanya diminta untuk dituliskan adalah kebencian, ketakutan, dan sex. Karena ketiga topik ini begitu berkaitan dengan dua isu utama yang selalu menghantui pecandu, yaitu perasaan malu dan perasaan bersalah. Menyembunyikan atau memendam pengalaman-pengalaman hidup yang berhubungan dengan ketiga topik tersebut akan menjadikannya beban spiritual yang tidak memungkinkan proses perubahan dan pertumbuhan yang positif. Untuk meringankan beban itu dan memulai adanya perbaikan rohani dalam diri seorang pecandu, ia harus bisa menerima kenyataan itu mengenai masa lalunya untuk kemudian bisa memaafkan. Oleh sebab itu, setelah berbagai hal yang menyakitkan tersebut terangkat kepermukaaan dan tidak lagi ditutup-tutupi, pecandu diminta untuk berbagi mengenai cerita itu dengan satu orang lagi yang bisa ia percayai. Bisa dibayangkan tentunya kedua langkah ini adalah langkah yang cukup sulit dan seringkali bahkan menakutkan, terutama bagi mereka yang baru mencobanya untuk pertama kali. Disinilah peran konselor menjadi sangat penting untuk membantu pecandu untuk mendapatkan kekuatan untuk menyelesaikan langkah ini. Pecandu harus dapat melihat bahwa kejujuran menjadi modal utama, dan tugas konselor jugalah untuk memupuk sifat yang baik ini dalam pecandu yang ditolongnya.

 

Langkah Keenam dan Ketujuh

“kita siap sepenuhnya agar Tuhan menyingkirkan semua kecacatan karakter kita.” “kita dengan rendah hati memohon kepadanya untuk menyingkirkan semua kekurangan-kekurangan kita.”

 

Kedua langkah ini adalah esensi dari proses perubahan diri dalam 12 langkah. Lima langkah pertama telah mendapatkan masalah utama, mencari solusi spiritual, dan mencari dan mengangkat berbagai beban dan kesulitan yang memperberat masalah utama. Setelah itu, kedua langkah ini, enam dan tujuh, menawarkan kepada pecandu apabila ingin meneruskan proses perubahan memasuki tahap yang baru dan memerlukan taraf kepercayaan dan keyakinan yang lebih mantap lagi. Kedua Langkah inilah yang membawa proses ini melampaui lebih dari hanya berhenti menggunakan NAPZA atau kecanduan lainnya. Dititik inilah menjadi semakin jelas bahwa 12 langkah akan membawa pecandu kepada perbaikan diri yang terus-menerus. Pecandu akan sadar bahwa dengan hanya berhenti menggunakan NAPZA, tetapi perilaku hidupnya, kondisi mental dan spiritualnya, masih menyerupai ketika ia aktif dalam kecanduannya, ia tetap tidak akan mendapatkan kebahagiaan. Kedua langkah ini menjadi papan loncatan untuk suatu proses kedepan yang akan memakan masa dan tenaga yang cukup banyak. Setelah mengetahui dengan jelas semua kerusakan yang ada pada diri pecandu, ia harapkan untuk bertanya pada dirinya, apakah ia sudah siap untuk merubahnya, Dan apakah ia sudah sampai pada titik kerendahan hati dimana ia tidak akan merasa selalu mampu untuk menyelesaikan semua masalah, tetapi meminta kepada Higher Power untuk melakukannya untuk dia, Rekan konselor adalah membantu pecandu melewati rasa “serba mampu” yang datang dari ego yang besar dan menumbuhkan kerendahan hati, yang merupakan prinsip spiritual yang diperlukan untuk kedua langkah ini.

 

Langkah Delapan dan Langkah Sembilan

“kita membuat daftar orang-orang yang telah kita sakiti dan menyiapkan diri untuk meminta maaf kepada mereka semua.”

 

“kita menebus kesalahan kita secara langsung kepada orang-orang tersebut bilamana memungkinkan, kecuali bila melakukannya akan justru melukai mereka atau orang lain.”

 

Sampai pada langkah ketujuh. Fokus dari proses 12 langkah ini masih ditujukan kepada diri pecandu yang menjalani proses ini sendiri. Memasuki langkah kedelapan, tahap perkembangan dan kematangan spiritual pecandu sudah dianggap cukup mantap untuk mulai melihat keluar dirinya kepada kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan dalam hubungannya dengan orang-orang lain. Ada tiga tugas utama yang diminta disini, membuat daftar (berbeda dengan daftar pada langkah empat), menyediakan diri, dan memperbaiki kesalahan secara langsung. Pada kedua langkah ini, usaha untuk menyelesaikan perasaan malu dan perasaan bersalah ditingkatkan intensitasnya. Dengan mengadakan perbaikan langsung, apakah itu meminta maaf, memperbaiki kerusakan, atau membayar hutang atau barang yang pernah dicuri, proses ini membebaskan pecandu secara total dari belenggu perasaan malu, takut, dan bersalah, dan akan lebih meringankan lagi beban mental pencandu dan memungkinkan untuk pertumbuhan spiritual yang lebih sehat lagi. Daftar yang dibuat tidak sepenuhnya sama dengan daftar yang telah dibuat di Langkah Empat, tetapi berdasarkan apa yang telah dicapai di langkah itu. Setelah itu, kesediaan diperlukan untuk menyiapkan diri sebelum membuat perbaikan langsung. Kesediaan juga memudahkan pecandu untuk mulai belajar memaafkan. Memaafkan orang lain, dan yang terpenting adalah memaafkan diri sendiri, sesuatu yang sering sulit bagi seorang pecandu. Kemudian, keberanian yang luar biasa diperlukan untuk mengambil Langkah Sembilan, dimana tindakan yang sebenarnya akan dilakukan.kecenderungan utama dari seorang pecandu adalah untuk memusatkan perhatiannya kepada rasa ketakutan, malu, dan bersalahnya. Disinilah peran konselor menjadi sangat penting untuk mempersiapkan pecandu. Diperlukan bimbingan yang tepat untuk menilai kesiapan yang sesungguhnya. Langkah ini ditempatkan pada nomor Sembilan karena untuk mencapainya harus melalui proses pemantapan spiritual yang prima, agar tidak menimbulkan kerugian atau menyakiti orang lain dan diri sendiri. Perlu pertimbangan yang benar-benar matang untuk memutuskan perbaikan mana yang harus didahulukan dan yang mana mungkin belum sampai pada saatnya. Bayangkan, bagaimana misalnya susahnya mendatangi orangtua dari seseorang yang pernah dibunuh dan mengakui sebagai pembunuhnya dan meminta maaf.

 

Langkah Sepuluh

“kita secara terus menerus melakukan inventarisasi pribadi kita dan bilamana kita bersalah, segera mengakui kesalahan kita.”

 

Langkah ini adalah permulaan dari apa yang disebut langkah-langkah pemeliharaan. Dari Langkah Satu sampai Sembilan dasar yang kuat telah semakin diperkokoh, masa lalu yang buruk telah dengan jujur ditelusuri dan dibersihkan, dan kerusakan-kerusakan baik pada diri sendiri atau yang berhubungan dengan orang lain telah diperbaiki, lalu bagaimana mempertahankan semua pencapaian ini, Langkah-langkah sepuluh, sebelas dan dua belas adalah langkah-langkah khusus untuk tujuan itu. Dilangkah Kesepuluh  pecandu diminta untuk terus menerus mengawasi diri sendiri, memonitor kehidupannya sehari-hari, dan dengan jujur mengakui apabila berbuat kesalahan atau berperilaku seperti pola lama ketika masih aktif dalam kecanduannya.

Konselor dapat membantu pecandu dalam proses analisa diri yang diminta dalam langkah ini. Dari setiap hasil dari pengawasan atau inventarisasi yang secara rutin dilakukan, sesuatu hal yang baru akan dapat dipelajari, dan dalam proses pembelajaran ini peran konselor menjadi sangat penting. Mereka yang telah mencapai tahap ini biasanya akan lebih pro-aktif dan mempunyai tingkat kesediaan yang tinggi untuk menjalani program, membuatnya mudah untuk dibimbing dan diajak bekerjasama. Pada tahap ini jugalah seringkali banyak perubahan kepribadian yang bisa disaksikan dengan nyata.

 

Langkah Sebelas

“Kita melakukan pencarian melalui doa dan meditasi untuk memperbaiki kontak sadar kita dengan Tuhan sebagaimana kita memahamiNya, berdoa hanya untuk mengetahui kehendakNya atas diri kita dan kekuatan untuk melaksanakannya.”

 

Langkah Kesebelas berfungsi sebagai jembatan menuju Higher Power sebagai sumber kekuatan, dan bagaimana memastikan bahwa kekuatan itu terus menerus juga dengan Higher Power itu. Di Langkah ini meditasi dan doa dianjurkan untuk terus dilakukan dan disebutkan secara bersamaan,menunjukkan bahwa bahwa keduanya adalah praktek yang lazim digunakan dalam Langkah Sebelas untuk berhubungan dengan Higher Power. Sekali lagi perlu dicatat, program 12 langkah bukanlah program keagamaan. Artinya, tidak ada anjuran untuk menjadi pemeluk agama tertentu untuk bisa menjalani 12 Langkah. Tetapi yang dianjurkan adalah, meyakini adanya kekuatan lain selain diri sendiri yang dapat membantu, apapun bentuk dari sumber kekuatan tersebut, dan untuk terus berhubungan melalui doa dengannya. Program 12 Langkah adalah program spiritual khusus bagi mereka yang mempunyai penyakit adiksi, dan harus bisa mengakomodasi kepentingan dari semua pecandu dari latar belakang kelompok apapun. Penekanan atas pentingnya berdoa adalah bagian yang cukup sentral dari program 12 Langkah, karena dengan berdoa artinya pecandu menjangkau kekuatan yang ada diluar dirinya, yang berarti ia sudah memahami bahwa dalam dirinya ini ada suatu kondisi yang tidak terelakkan dan tidak akan hilang, yaitu adiksi. Dan satu-satunya cara untuk meredam adiksi ini agar tidak kambuh atau relapse adalah dengan membina pertumbuhan spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menerapkan apa yang disarankan oleh metode 12 Langkah, seorang pecandu memastikan pertumbuhan spiritual dalam hidupnya tetap terjaga.




Langkah Dua Belas

“Setelah mengalami pencerahan spiritual sebagai hasil dari langkah-langkah ini, kita mencoba menyampaikan pesan ini kepada para pecandu dan untuk menerapkan prinsip-prisip ini dalam segala hal yang kita lakukan.”

 

Pada langkah ini, hasil dari kerja keras seorang pecandu mempelajari dan mengamalkan kesebelas langkah sebelum akhirnya dapat diraih. “ “Pencerahan Spiritual” yang dimaksud adalah perubahan yang menyeluruh dalam jiwa pecandu sehingga ia mencapai keterbukaan, keyakinan, dan kepercayaan yang begitu dalam terhadap Tuhan dalam bentuk yang dipercayainya. Pada tahap ini perubahan terjadi pada semua level, baik spiritual, mental, dan emosional. Kemudian, pecandu akan diminta untuk menyampaikan anugerah yang sudah didapatnya ini kepada pecandu lain yang masih menderita. Berdasarkan kejadian pertama ketika Bill Wilson berbagi kepada Dr.Bob mengenai alkoholismenya dan setelah itu keinginan untuk minum sirna, begitu jugalah para anggota 12  Langkah diminta untuk dengan murah hati berbagi mengenai cerita kehidupannya dalam pemulihan dengan pecandu yang masih menderita. Dan ini bukan saja baik bagi pendengar atau pendatang baru, tetapi inilah tulang punggung dari program 12 Langkah, yaitu seorang pecandu hanya bisa tetap menyimpan kekuatan yang ia miliki untuk bertahan bersih apabila ia membagikannya pada orang lain.





















MEMAHAMI PROGRAM REHABILITASI









PROGRAM REHABILITASI

 

  1. Short Term (Rehabilitasi Jangka Pendek)

  • Lama perawatan berlangsung antara 1-3 bulan tergantung dari kondisi dan kebutuhan pasien.

  • Pendekatan yang dapat dilakukan kearah medik dan psikososial.

  • Masalah medik masih menjadi fokus utama, asesmen dilakukan secara lengkap termasuk pemeriksaan penunjang medik.

  • Indikasi diberikan kepada pasien yang memiliki kegiatan rutin (bekerja, sekolah dan sebagainya).

  • Asesmen yang perlu dilakukan pada model terapi ini adalah :

  1. Evaluasi masalah penggunaan NAPZA : (Jenis, jumlah, lama pemakaian, dampak yang ditimbulkan , keinginan untuk berhenti.

  2. Evaluasi medis :  Riwayat Penyakit, kondisi fisik saat ini dan penyakit-penyakit lain yang terkait dengan penggunaan NAPZA.

  3. Evaluasi Psikologis melalui wawancara dan tes psikologi.

  4. Evaluasi sosial : riwayat keluarga, pendidikan, pekerjaan, dan hubungan sosial.

  • Untuk melakukan asesmen memerlukan suatu hubungan teraupeutik yang terbina antara pasien dengan terapis, dan hasil asesmen tersebut menjadi acuan untuk terapis selanjutnya.

  • Pengobatan dapat dilanjutkan dengan rawat jalan atau bila masalah yang dihadapi pasien khususnya prilaku belum memungkinkan dapat dilanjutkan dengan rehabilitasi jangka panjang.

 

  1. Rehabilitasi Jangka Panjang :

Modalitas terapi Theraupetic Community (TC) yang menggunakan pendekatan perubahan  prilaku :

  • Direkomendasikan bagi pasien yang sudah mengalami masalah Penggunaan NAPZA dalam waktu lama dan berulangkali kambuh atau sulit untuk berada dalam kondisi abstinen atau bebas dari NAPZA.

 

  • TC dapat digambarkan sebagai model yang cocok atau sesuai dengan pasien yang membutuhkan lingkungan yang mendukung dan dukungan yang lain bermakna dalam mempertahankan kondisi bebas NAPZA atau abstinen.




Gambaran dari TC adalah sebagai berikut :

  1. Program dengan Struktur yang tinggi/ ketat.

  2. Umumnya pasien berada dalam program untuk 6-12 tahun.

  3. Program  pengobatan.

  4. Program pendidikan.

  5. Latihan keterampilan sosial dan penerapannya (seringkali pasien mengalami ganguan fungsi kehidupan yang serius).

  6. Diarahkan kepada pasien yang mempunyai riwayat prilaku kriminal.

  7. Mengembangkan sistem dukungan  yang sesuai kebutuhan pasien.

  8. Menstabilkan fungsi kehidupan pasien

  9. Rehabilitasi vokasional.

  • Program ini mempunyai suatu aturan yang tertulis maupun tidak tertulis yang di istilahkan dengan cardinal rules dan five pillars yang sangat mengikat setiap residen untuk menjalankan dan siap menerima sanksi bila melanggar aturan tersebut (pasien peserta TC lazimnya disebut residen).

  • Tahapan Program TC yang harus dijalani oleh setiap residen adalah sebagai berikut :

 

  1. Proses Intake dan Orientasi (2-4 minggu) ;

-  Wawancara awal

-  Informed Consent

-  Pemeriksaan Fisik

-  Pengisian Formulir

-  Orientasi Program (walking paper)

-  Penganalan Program dan fasilitas layanan.

2.   Primary Stage (6-9 bulan).

Untuk  Younger Member (anggota termuda 1-3 bulan)

  • Aktif mengikuti program

  • Penerapan sanksi (reward and punishment)

  • Dikunjungi keluarga

  • Kegiatan family support group

  • Kegiatan kelompok ------- untuk middle member  (anggota menegah 4-6 bulan).

  • Mulai bertanggungjawab terhadap sebahagian fasilitas TC dengan pendampingan.

  • Kegiatan dalam kelompok

  • Dilakukan family support group (FSG)

Untuk order member (anggota lama 6-8 bulan)

  • Sudah bertanggungjawab penuh terhadap rumah/ fasilitas

  • Pelaksanaan reward dan punishment secara penuh.

  • Boleh meninggalkan fasilitas/rumah

  • Dilakukankegiatajn FSQ

  • Mengikuti kegiatan kelompok

  • Dinyatakan graduate/lulus.

 

3.Tahapan Re- Entry (3 sampai 6 bulan)

a.Fase Orientasi (2 Minggu)

-  Pengenalan Program Re- Entry

- Didampingi Buddy (pendamping)

- Tidak boleh dikunjungi keluarga

- Tidak boleh meninggalkan fasilitas TC

- Sanksi berupa tugas-tugas mengurus fasilitas.

- Mengikuti kegiatan kelompok.

b.Fase A (1,5 -2 bulan).

- Mengikuti kegiatan kelompok

- Dapat dikunjungi keluarga setiap waktu

- Diberi ijin menginap 1 malam setiap 2 minggu sekali.

- Boleh menerima uang jajan setiap minggu secara teratur.

- Boleh melakukan aktivitas di luar TC

c. Fase B (2 bulan)

- Mengikuti kegiatan kelompok

- Dapat dikunjungi setiap waktu

- Diberi ijin pulang menginap 2 malam setiap 2 minggu

- Boleh meminta tambahan uang jajan.

- Boleh melakukan aktivitas diluar fasilitas TC

d.Fase C (2 bulan)

- Mengikuti kegiatan kelompok

- Dapat dikunjungi setiap waktu

- Diberi ijin pulang

- Boleh meminta tambahan uang jajan.

- Boleh melakukan kegiatan diluar fasilitas TC

- Konseling Final bagi residen maupun keluarga untuk persiapan pulang.

 

3.Aftercare Program

  • Program yang ditujukan bagi mantan residen / alumni TC, Program ini dilaksanakan di luar fasilitas TC dan diikuti oleh semua angkatan dibawah supervise staf re-entry. Tempat pelaksanaan disepakati bersama.

  • Program ini bertujuan agar alumni TC mempunyai tempat / kelompok yang sehat dan mengerti tentang dirinya serta mempunyai lingkungan hidup yang positif.

  • Bentuk kegiatan yang dilakukan adalah :

  • Sharing dalam kelompok tanpa ditanggapi

  • Meminta anggota untuk menanggapi suatu topik

  • Waktu dan tempat pelaksanaan disepakati bersama.

 

4. Intervensi Psikososial

Suatu pendekatan yang mengutamakan pada masalah psikologis dan sosial yang disandang oleh pasien dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan pasien menghadapi setiap masalah (Coping Mechanism).

  • Intervensi psikososial merupakan komponen kunci untuk terapi ganngguan penggunaan NAPZA yang komprehensif baik secara individu maupun kelompok.

  • Intervensi ini dapat diberikan pada setiap tahapan terapi baik dalam keadaan intoksikasi sampai pada saat fase rehabilitasi yang disesuaikan dengan kondisi pasien khususnya pasien dengan kesadaran penuh.

  • Untuk melaksanakan intervensi ini diperlukan pelatihan keterampilan yang khusus dan memenuhi criteria tertentu sesuai dengan jenis intervensi.

  • Pendekatan psikososial saja bukan yang superior, program terapi harus didesain sesuai kebutuhan pasien dengan mempertimbangkan faktor budaya, umur, gender serta komorbiditas.

  • Beberapa model intervensi psikososial yang dapat dilakukan dalam layanan pengobatan Gangguan penggunaan NAPZA antara lain :

 

  1. Brief Intervention (BI)

Brief Intervention dipertimbangkan untuk berbagai kondisi yang melibatkan waktu tenaga  professional yang terbatas untuk mencoba merubah penggunaan NAPZA. Berbagai intervensi membutuhkan waktu antara 5 menit sampai 2 jam.

BI khususnya dapat dipergunakan untuk pelayanan dasar di puskesmas dan dapat juga digunakan di ruang emergensi, bangsal rumah sakit, dan berbagai kondisi layanan kesehatan lain. Intervensi direkomendasikan untuk beberapa kondisi seseorang seperti dibawah ini :

  • Penggunaan alkohol yang membahayakan tetapi belum ketergantungan.

  • Ketergantungan alkohol ringan sampai sedang

  • Ketergantungan nikotin / perokok.

  • Ketergantungan kanabis ringan sampai sedang.

BI tidak direkomendasikan untuk kondisi dibawah ini :

  • Pasien yang kompleks dengan isu-isu masalah psikologis / psikiatrik.

  • Pasien dengan ketergantungan berat.

  • Pasien dengan kemampuan membaca yang rendah.

  • Pasien dengan kesulitan terkait dengan gangguan fungsi kognitif.

 

Pada kondisi ini direkomendasikan untuk melakukan wawancara mendalam.

BI dapat menggunakan berbagai bentuk format tetapi seringkali termasuk :

  1. Asesmen singkat

  2. Materi self- help (materi yang membantu pemahaman NAPZA contoh leaflet tentang penanganan overdosis cara mrnyuntik)

  3. Informasi tingkat penggunaan yang aman

  4. Anjuran ujntuk menguranngi konsumsi

  5. Pengurangan dampak buruk

  6. Pencegahan kekambuhan

  7. Asesmen untuk kesiapan berubah termasuk wawancara memotivasi

  8. Konseling singkat termasuk pemecahan masalah dan tujuan

  9. Follow – up.

Enam elemen terapi dalam intervensi singkat yang sering digunakan dan berhasil adalah :

F: Feedback -> memberikan umpan balik hasil asesmen klinis

R     :Responsibility -> meyakinkan bahwa perilaku penggunaan   NAPZA dan masalah yang ditimbulkannya menjadi tanggung  jawab individu.

A    :Advice -> memberikan kejelasan, anjuran praktis dan materi self help.

M     :Menu -> memberikan beberapa opsi dan intervensi dalam perubahan perilaku.

E      : Empathy -> memperlihatkan sikap tidak menghakimi dan menghayati pasien.

S      :Self-Efficacy -> menekankan kepercayaan terhadap kemampuan individu untuk berubah.

 

  1. Konseling Dasar

“…. Konseling sendiri biasanya tidak cukup untuk merubah perilaku penggunaan NAPZA pada kebanyakan pasien….”,

  • Konseling adalah suatu proses pertolongan dimana seseorang, dengan tulus dan tujuan jelas, memberikan waktu, perhatian dan keahliannya membantu pasien untuk mempelajari situasi mereka, mengenali dan melakukan pemecahan masalah terhadap keterbatasan yang diberikan lingkungan mereka.

  • Tujuan dan fungsi konseling :

Membantu pasien untuk mempelajari dan memperoleh solusi jangka panjang yang memuaskan bagi masalah-masalah yang dialaminya.

  • Fungsi Utama Konseling :

  1. Menyampaikan informasi penting

  2. Membantu pasien mengklarifikasi dan menempatkan masalah.

  3. Membantu pasien memilih dan mengambil pendekatan realistik.

  4. Memberikan dukungan psikomotor melalui keterampilan komunikasi.

  • Konselor membuat suatu kondisi dimana pasien dapat menjadi teman baik melalui pikiran dan perasaan mereka.

  • Konselor tidak memberikan nasehat, tetapi membantu orang untuk :

  • Mampu mengerti perasaan mereka

  • Menemukan dan memilih alternative yang nampaknya paling baik bagi mereka.

  • Karakteristik konseling adalah :

  • Merupakan suatu proses interaktif

  • Merupakan hubungan yang interaktif

  • Berdasarkan pada kolaborasi

  • Melibatkan berbagai keterampilan konselor

  • Menekankan pada kebebasan personal

  • Menekankan pilihan

  • Menggunakan penguatan positif

  • Menggunakan dukungan emosional

  • Pencatatan secara formal

  • Dalam proses konseling agar terbangun suatu hubungan terapeutik seorang konselor harus mampu

  • Melakukan percakapan yang efektif :

  • Mendengarkan dengan aktif

  • Mencoba mengerti perasaan pasien

  • Menanyakan pertanyaan yang baik.

  • Menghargai pasien maupun perasaan pasien, dan tidak memaksanya berubah

  • Tidak menyalahkan atau menghakimi

  • Menyediakan informasi yang tepat

  • Menyatakan bahwa pasien tidak sendiri menghadapi masalah -> untuk mencegah pasien merasa gagal atau ditolak.

  • Memahami prinsip-prinsip umum dalam konseling.

 

  1. Wawancara Motivasional (Motivational Interviewing-MI)

Motivasi adalah suatu keadaan atau keinginan untuk berubah, selalu berfluktuasi dari waktu ke waktu atau dari situasi ke situasi lain. Dasar pemikiran atau alasan melakukan wawancara motivasional ini adalah bahwa untuk mencapai perubahan adalah lebih mudah bila motivasi untuk berubah tersebut  datang dari dalam dirinya sendiri, dari pada dipaksakan oleh konselor atau terapis.

 

Wawancara motivasional adalah sebuah wawancara yang interaksinya berpusat pada pasien dan bertujuan untuk membantu seseorang manggali dan mengatasi ambivalensi tentang penggunaan NAPZA melalui tahap perubahan. Ini sangat berguna bila dilakukan pada pasien yang berada pada tahap prekontemplasi dan kontemplasi, tapi prinsip dan keterampilan wawancara sangat penting pada semua tahap.

Wawancara motivasional didasari pada pengertian bahwa :

  • Pengobatan yang efektif dapat membantu proses perubahan.

  • Motivasi untuk berubah terjadi dalam konteks hubungan antara pasien dan terapis.

  • Gaya dan semangat dari intervensi sangat menentukan keberhasilan terapis, khususnya empati yang dihubungkan dengan perbaikan hasil pengobatan.

Pendekatan intervensi singkat ini didasarkan pada prinsip wawancara motivasional yang dikembangkan oleh Miller dan kemudian di perluas oleh Miller dan Rollnick.

 

Prinsip Wawancara Motivasional

Mengekpresikan Empati

Dalam situasi klinis keterlibatan empati memberikan gambaran bahwa konselor atau petugas kesehatan menerima pasien apa adanya, tidak menghakimi dan dapat memahami pasien serta menghindari memberikan label , misalnya menyebut pasien sebagai “alkoholik” atau “pecandu”. Hal ini sangat penting untuk menghindari adanya konfrontasi dan menyalahkan atau mengkritik pasien. Keterampilan mendengarkan dan merefleksikan merupakan bagian penting dari ekpresi empati. Empati yang dilakukan oleh tenaga kesehatan merupakan faktor penting untuk mengetahui bagaimana respon pasien terhadap intervensi yang diberikan.

 

Ketidakcocokan (Perbedaan)

Orang lebih mungkin dimotivasi untuk mengubah perilaku penggunaan NAPZA bila mereka melihat ada perbedaan antara penggunaan NAPZA dan masalah yang berhubungan dengan perilaku mereka saat ini serta arah yang mereka inginkan dalam kehidupan mereka.

 

Semakin besar perbedaan antara tujuan, nilai dan perilaku mereka saat ini, kemungkinan besar pasien dapat berubah. Wawancara motivasional bertujuan untuk menciptakan dan menjelaskan perbedaan antara perilaku saat ini dan tujuan yang lebih besar dan menilai cara pandang pasien terhadap hal tersebut. Hal ini penting bagi pasien untuk mengidentifikasi tujuan / dan nilai serta untuk mengekspresikan alasan-alasan mereka untuk berubah.

 

Menghindari Argumentasi

Prinsip utama dari wawancara motivasional adalah dapat menerima bahwa adanya ambivalensi dan resistensi untuk berubah adalah suatu hal yang normal dan untuk mengajak pasien mempertimbangkan antara informasi yang didapat dan pandangan terhadap penggunaan NAPZA mereka. Pada saat pasien memperlihatkan resistensinya, tenaga kesehatan harus dapat menggambarkan kembali atau merefleksikannya. Ini biasanya penting untuk menghindari argumentasi dan perdebatan.

 

Dukungan keyakinan diri (kepercayaan)

Seperti yang telah didiskusikan diatas pasien yakin bahwa mengurangi atau menghentikan perilaku penggunaan NAPZA adalah penting dan mereka mampu melakukannya. Melakukan negosiasi dan membangun kepercayaan untuk membujuk pasien bahwa sesuatu yang dapat mereka lakukan adalah bagian penting dari wawancara motivasional. Kepercayaan terapis pada kemampuan pasien untuk mengubah perilaku mereka juga penting dan dapat menjadi sugesti diri sendiri.



Keterampilan-keterampilan khusus

Wawancara motivasonal dilaksanakan dengan menggunakan lima keterampilan khusus. Keterampilan ini bertujuan untuk mendorong pasien mau berbicara, menggali ambivalensi mereka terhadap penggunaan NAPZA dan menjelaskan alasan mereka untuk mengurangi atau berhenti menggunakan NAPZA. Empat keterampilan pertama tersebut sering dikenal dengan singkatan OARS :-Open ended questions (Pertanyaan terbuka), Affirmation (Penegasan), Reflective listening (mendengarkan dengan cara merefleksikan), Summarising (Menyimpulkan).

 

Keterampilan kelima adalah “berbicara mengenai perubahan” OARS dapat membantu pasien menyampaikan argumentasi untuk mengubah perilaku pengguna NAPZA mereka.

 

OARS

Pertanyaan Terbuka (Open Ended Questions)

Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang membutuhkan jawaban panjang dan membuka pintu kepada seseorang agar mereka mau berbicara.

Contoh pertanyaan terbuka antara lain :

  • “Apa manfaat yang anda rasakan dengan menggunakan NAPZA” ?

  • “Ceritakan kepada saya, hal apa yang anda rasakan kurang baik tentang penggunaan …. (NAPZA)

  • “Anda kelihatan khawatir dengan penggunaan NAPZA yang anda lakukan selama ini ?”

  • “Seberapa khawatirnya anda pada hal tersebut”

  • “Bagaimana perasaan anda tentang ….?”

  • “Apa yang akan anda lakukan berkaitan dengan hal tersebut ?”

  • Apa yang anda ketahui tentang ….?”

 

Penegasan (Affirmation)

Termasuk pernyataan apresiasi serta pengertian membantu menciptakan lingkungan yang mendukung, serta membangun relasi dengan pasien. Memberikan penegasan terhadap kekuatan pasien dan usaha untuk berubah dapat membantu membangun keyakinan, sementara penegasan pernyataan motivasi diri (atau berbicara tentang perubahan) mendorong kesiapan untuk berubah.

 

Contoh penegasan termasuk :

  • “Terima kasih untuk kedatangannya pada hari ini”

  • “Saya menghargai kemauan saudara untuk berbicara pada saya tentang penggunaan NAPZA”

  • “Anda adalah orang yang tepat untuk mengatasi kesulitan ini”

  • “Saya dapat melihat bahwa anda merupakan orang yang tangguh”

  • “Itu adalah ide yang bagus”

  • “Hal ini sulit untuk dibicarakan mengenai………………saya sangat menghargai jika anda tetap seperti ini”.

 

Mendengarkan dengan cara merefleksikan (Reflective listening)

Mendengarkan dengan cara merefleksikan adalah suatu pernyataan yang dapat menebak apa yang dimaksud pasien. Hal ini penting untuk merefleksikan kembali perkataan dan perasaan pasien yang telah di ucapkan. Mendengarkan dengan cara merefleksikan adalah sama halnya seperti menggunakan cermin untuk seseorang sehingga mereka dapat mendengar apa yang dikatakan terapis seperti yang telah mereka sampaikan.

 

Mendengarakan dengan cara merefleksikan menunjukkan pada pasien bahwa terapis mengerti apa yang telah dikatakan atau dapat digunakan  untuk mengklarifikasi apa yang dimaksud oleh pasien. Mendengarkan dengan cara merefleksi yang efektif dapat mendorong pasien untuk tetap berbicara, untuk itu terapis harus memberikan cukup waktu agar hal ini dapat dilakukan.

 

Dalam wawancara motivasional, mendengarkan dengan cara merefleksikan digunakan secara aktif untuk menyoroti ambivalensi pasien tentang penggunaan NAPZA, mengarahkan pasien untuk mengenali dan peduli dengan masalahnya serta memperkuat pernyataan yang mengindikasikan bahwa pasien berfikir tentang perubahan.

Contoh :

  • “Anda terkejut bahwa skor anda memperlihatkan bahwa anda mempunyai masalah yang berisiko”

  • “Hal ini sangat penting untuk mempertahankan hubungan anda dengan istri”

  • “Anda merasa tidak nyaman membicarakan hal ini “

  • “Anda marah karena istri sering mengomeli bila anda banyak merokok”

  • “Maukah anda mengurangi penggunaan alcohol pada saat pesta”

  • “Anda sangat menikmati ekstasi dan tidak mau menghentikannya tapi secara bersamaan anda juga melihat bahwa hal ini dapat menyebabkan beberapa masalah yang berkaitan dengan financial dan hukum”.

 

Membuat Kesimpulan (Summarising)

Membuat kesimpulan atau merangkum adalah hal yang penting untuk menyamakan persepsi terhadap apa yang telah dikatakan pasien serta mempersiapkan pasien untuk berubah.

 

Pertama pasien dapat mendengarkan apa yang ia katakana kemudian ia mendengar terapisnya merefleksikan apa yang telah diucapkan dan kemudian ia mendengarkan kembali dalam kesimpulan atau rangkuman. Terapis memilih apa yang akan dimasukkan dalam rangkuman dan petunjuk apa yang dapat digunakan untuk berubah. Hal ini penting untuk membuat suatu rangkuman.

 

Sebagai contoh suatu rangkuman :

“Jadi kelihatannya anda benar-benar menikmati ekstasi dan shabu pada saat pesta dan anda tidak memikirkan bahwa anda menggunakannya lebih banyak dari teman anda. Pada sisi lain anda lebih banyak menghabiskan uang untuk membeli NAPZA dibandingkan penghasilan anda dan ini sngat mengkawatirkan anda. Anda juga menemui kesulitan untuk membayar tagihan dan kartu kredit anda ditolak. Pasangan anda sangat marah dan sangat membenci perilaku anda. Anda juga mempunyai masalah tidur dan kesulitan mengingat sesuatu”.




Berbicara mengenai perubahan (Eliciting change talk)

Keterampilan kelima adalah “Berbicara mengenai perubahan” adalah suatu strategi untuk membantu pasien mengatasi ambivalensi dan bertujuan agar pasien dapat menyampaikan pendapatnya untuk mau berubah. Ada empat kategori penting untuk membicarakan perubahan :

  • Mengenali kerugian bila tetap menggunakan NAPZA

  • Mengenali manfaat bila tidak menggunakan NAPZA

  • Menyampaikan optimisme tentang perubahan

  • Menyampaikan tujuan untuk berubah

 

Terdapat beberapa cara yang dapat menggambarkan “berbicara mengenai perubahan” dari pasien,

  • Mengajukan pertanyaan langsung dan terbuka, contoh :

  • “Apa yang menyebabkan anda khawatirkan dengan penggunaan NAPZA?”

  • “Apa yang anda pikirkan terjadi jika anda tidak berubah?”

  • > “Manfaat apa yang akan didapatkan jika anda mengurangi penggunaan NAPZA?”

  • > “Apa yang anda inginkan dalam kehidupan anda lima tahun mendatang ?”

  • “Apa yang akan anda kerjakan apabila anda memutuskan untuk berubah ?”

  • “Seberapa yakinkah anda bahwa anda dapat berubah ?”

  • “Seberapa penting bagi anda untuk mengurangi penggunaan NAPZA?”

  • “Apa yang anda fikirkan saat ini tentang penggunaan NAPZA anda ?”

 

  1. Cognitif Behavioral Therapy (CBT)

Cognitive Behavioral Therapy atau yang lebih dikenal dengan CBT adalah sebuah psikoterapi yang mulai banyak digunakan oleh para professional dan terapis dalam menghadapi berbagai persoalan-persoalan psikologis individual, bahkan sampai kepada penggunaan dalam manajemen perusahaan dalam meningkatkan kinerja dan produktivitas yang sustainable dan resilience. CBT sebagai sebuah bentuk psikoterapi digunakan oleh para professional karena :

  1. CBT adalah jangka pendek, sangat kompetibel dengan berbagai sumber daya yang tersedia bagi pasien.

  2. CBT telah teruji secara klinis dan didukung oleh percobaan empirical yang solid.

  3. CBT terstruktur, goal-oriented (berorientasi pada sasaran perawatan yang telah dirancang),focus pada masalah yang dihadapi saat ini yang bergumul untuk mengatasi problem NAPZA yang dialami pasien.

  4. CBT sangat fleksibel, pendekatan sangat individual tetapi dapat disesuaikan dengan berbagai bentuk perawatan (inpatient, outpatient) demikian juga formatnya (kelompok dan perorangan).

  5. Sangat cocok dikombinasikan dengan berbagai terapi seperti MET, MI, Medis, dll.

 

Dengan dasar diatas, maka para ahli yang menggunakan CBT mengembangkan apa yang disebut kompetensi CBT untuk berbagai gangguan yang didasari oleh meta-analisa diatas. Asumsi yang dipakai adalah, setiap bentuk gangguan sifatnya sangat khusus terhadap pribadi yang khusus, lingkungan yang khusus, dan sasaran individu (penderita gangguan) yang juga khusus. Maka untuk setiap gangguan , harus dilakukan studi yang mendalam sehingga dapat diterapkan secara efektif dan efisien, sesuai dengan sifatnya / hakekat CBT.

 

Intervensi CBT lahir dari 2 (dua) teori-teori ilmu psikologi yang telah berkembang sejak tahun 1950 sampai 1970, yaitu mulai dari psikoanalisa; client center Rogerian; terapi perilaku dalam bentuk desentisisasi, modifikasi perilaku, aktivasi perilaku-conditioning (1950an); lalu terapi cognitive REBT menurut Albert Elhs, cognitive therapy dari Aaron Beck tahun 1970an; dan pada tahun 1990an pendekatan-pendekatan yang baru muncul seperti mindful therapy and acceptance & commitment therapy, dengan tujuan utama adalah merestruktur cara berpikir lama dan merubah perilaku lama dalam suatu proses pembelajaran.

 

Dasar Teori CBT

Setiap model dan metoda intervensi, apapun pendekatannya, memerlukan dasar teori yang sudah terbukti (evidence based) dan teruji secara klinis. CBT menggunakan dua teori, yaitu teori terapi kognitif dan teori terapi perilaku yang telah ada dalam dunia terapi selama ini. Untuk menghemat waktu dan mengejar efektifitas, maka dalam praktik, digunakan sekitar 80% terapi kognitif; khususnya bagi pasien remaja dan dewasa.

 

Terapi kognitif, bertujuan untuk membangun pikiran dan tindakan yang lebih rasional, dengan mengidentifikasi keyakinan-keyakinan inti dan asumsi-asumsi yang tidak rasional yang mengakibatkan atau menjadi kebiasaan (otomatis) dan bekerja kearah mengkoreksinya. Sedangkan muatan terapi perilaku, lebih menekankan teori pembelajaran sosial berupa modeling dan conditioning sebagaimana pasien belajar menggunakan NAPZA. Didasari atas kedua terapi diatas, CBT dikembangkan sesuai dengan kondisi dan latar belakang pasien, lingkungan hidupnya, dan budaya lingkungannya. Semakin luas pengetahuan terapis, maka akan sangat efektif bagi terapis dalam mengaplikasikan CBT terhadap pasien. Jadi CBT didasari atas meta-analisa, maka dari itu efektifitasnya sangat tinggi yang akibatnya memiliki efisiensi atau waktu perawatan yang relative singkat disbanding dengan cara pendekatan tradisional.

 

Kesiapan Terapis CBT

CBT untuk adiksi didasari atas asumsi pendekatan biopsikososial. Dengan demikian para terapis harus mengembangkan pemikiran yang komprehensif terlebih dahulu sebelum melakukan perawatan; pertanyaan- pertanyaaan dibawah ini harus menjadi bagian dari asumsi-asumsi terapis sebelum menghadapi pasien; yang akan ditanyakan dan di selidiki :

  • Apakah pasien memiliki gangguan atau penyakit tertentu sebelum menggunakan NAPZA dan sebagai akibat dari penggunaan NAPZA; kemana saya harus merujuknya bila hal ini ada ?

  • Apakah pasien memiliki gejala dual diagnosis ?

Merujuk ke psikiater mana yang mengerti masalah adiksi dan gangguan psikiatrik yang berhubungan dengan adiksi.

  • Gangguan psikologis apa saja yang diderita pasien ?

Perangkat asesmen dan analisa apa yang harus dipakai untuk mengetahuinya ?

  • Kemudian dari hasil-hasil diatas apakah tingkat keparahannya pasien ? Tingkat perawatan apa yang berguna dan harus dilaksanakan bagi pasien bersangkutan ?

  • Apa saja faktor-faktor berisiko bagi pasien bila dia harus menjalani perawatan rawat jalan maupun rawat inap ?

  • Sampai dimana tingkat motivasi pasien untuk berhenti menggunakan NAPZA ? Apa faktor-faktor penentu motivasi tersebut sehingga pasien datang keperawatan atau dipaksa menjalankan keperawatan.

  • Apa kekuatan dan kelemahan yang dimiliki pasien sehingga dia mampu bertahan dengan keadaan emosional dan perilaku sampai saat ini ? Latar belakang sosial dan individual perlu diperhatikan.

  • Dan beberapa pertanyaan yang spesifik yang timbul ketika berhadapan dengan pasien secara langsung; termasuk alat asesmen apa yang nanti akan digunakan, siapa yang akan menjadi pendamping (peer counselor), siapa yang menjadi manager kasus, dan terakhir apakah fasilitas yang dimiliki terapis sudah memadai dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas.

 

Keberhasilan menjawab sebanyak mungkin pertanyaan diatas akan menentukan langkah-langkah intervensi selanjutnya apakah menjadi mudah atau sulit. Terapis harus melengkapi diri dengan pertanyaan-pertanyaan diatas yang akan dilakukan pada pasien pada tahap awal perawatan primer.

 

  1. Pencegahan Kekambuhan

Kambuh merupakan pengalaman yang sering terjadi dalam proses pemulihan pasien Gangguan penggunaan NAPZA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang dapat diprediksi dalam kekambuhan adalah sistem keyakinan yang salah dan menetap (….’Saya seorang pecandu dan saya tidak bisa berhenti menggunakan NAPZA….’)

 

     Di bawah ini beberapa strategi yang digunakan dalam pencegahan kekambuhan :

  • Tingkatkan komitmen untuk berubah (misal menggunakan wawancara memotivasi).

  • Identifikasi situasi risiko tinggi yang menimbulkan kekambuhan (Kapan, dimana, dengan siapa dan bagaimana penggunaan Napza bisa terjadi)

  • Mengajarkan kemampuan menghadapi masalah (coping skill), misalnya: keterampilan sosial, keterampilan manajemen diri, monitoring diri dari penggunaan NAPZA,

  • Mengembangkan strategi untuk menghadapi situasi yang dapat menyebabkan terjadinya kekambuhan :

  • Apa yang harus dilakukan pasien dalam suatu kejadian yang dapat menimbulkan kambuh ?

  • Dimana pasien mendapatkan dukungan ?

  • Apa peran yang dapat diberikan dari teman atau keluarga ?

  • Seberapa cepat pasien harus membuat perjanjian untuk kembali ke tempat praktek ?

 

  1. Program 12 Langkah

Fokus dari Program 12 langkah adalah penerapan langkah-langkah itu dalam kehidupan sehari-hari. Disinilah penggunaan istilah Falsafah menjadi lebih relevan, karena langkah-langkah ini menjadi panduan untuk menjalani  kehidupan sebagai seorang pecandu yang ingin mempertahankan kebersihannya dan membina perjalanan spritualnya. Jadi, lebih dari sekedar peraturan, 12 Langkah menjadi “Falsafah hidup” seorang pecandu, untuk diamalkan ketika menjalani kehidupan kesehariannya. Dan, berdasarkan paradigma Disease model of Addiction, penyakit kecanduan mempunyai  potensi untuk kambuh sewaktu-waktu apabila tidak diredam oleh program pemulihan yang bersinambungan. Dengan pengamalan atau praktek dari langkah-langkah inilah para pecandu akan dapat meredam penyakitnya agar tidak kambuh, sepanjang hayatnya. Pada penjelasan ini, setiap langkah akan diuraikan secara singkat maknanya dan arena setiap langkah ditargetkan untuk mengatasi setiap aspek spesifik dalam penyakit kecanduan, uraian ini akan mencakup fungsi klinical yang dapat diterapkan baik dalam kondisi di dalam atau diluar institusi / panti rehabilitasi.






 

 Ttd

Direktur

KLINIK UMMI MEDIKA

 

Kontak Kami IPWL :

Jalan Serasi No. 08 Kel. Delima Kec. Tampan Pekanbaru - Riau

email : badar.ali@satubuminews.com

Mobile :

0812 7411 8032 CP BADAR ALI 

0813 7272 9675 CP: dr.Uvirda